Risiko
dan manajemen risiko
Risiko merupakan bagian
tak terpisahkan dari kehidupan manusia, ada pepatah mengatakan tak ada hidup
tanpa risiko. Risiko dapat ditafsirkan sebagai bentuk ketidakpastian tentang
suatu keadaan yang akan terjadi nantinya (future) dengan keputusan yang
diambil berdasarkan berbagai pertimbangan pada saat ini.
Pada dasarnya risiko
tidak dapat dihindari dari aktivitas bisnis perusahaan, sehingga diperlukan
manajemen risiko untuk mengatasi permasalahan ini. Manfaat perusahaan
mengimplementasikan manajemen risiko antara lain (Lam, 2007:6) memberikan peran
dalam pengelolaan risiko kepada manajer perusahaan, mengingat manajer
perusahaan memiliki akses penuh terhadap informasi dan dukungan dari para
profesional manajemen risiko.
Manajemen resiko adalah bagian
penting dari strategi manajemen semua perusahaan. Proses di mana suatu
organisasi yang sesuai metodenya dapat menunjukkan resiko yang terjadi pada
suatu aktivitas menuju keberhasilan di dalam masing-masing aktivitas dari semua
aktivitas. Fokus dari manajemen resiko yang baik adalah identifikasi dan
cara mengatasi resiko. Sasarannya untuk menambah nilai maksimum
berkesinambungan (sustainable) organisasi.
Tujuan utama untuk memahami potensi upside dan downside
dari semua faktor yang dapat memberikan dampak bagi organisasi. Manajemen
resiko meningkatkan kemungkinan sukses, mengurangi kemungkinan kegagalan dan
ketidakpastian dalam memimpin keseluruhan sasaran organisasi.Manajemen resiko
seharusnya bersifat berkelanjutan dan mengembangkan proses yang bekerja dalam
keseluruhan strategi organisasi dan strategi dalam mengimplementasikan.
Manajemen resiko seharusnya ditujukan untuk menanggulangi suatu permasalahan
sesuai dengan metode yang digunakan dalam melaksanakan aktifitas dalam suatu
organisasi di masa lalu, masa kini dan masa depan.Manajemen resiko harus
diintegrasikan dalam budaya organisasi dengan kebijaksanaan yang efektif dan
diprogram untuk dipimpin beberapa manajemen senior. Manajemen resiko
harus diterjemahkan sebagai suatu strategi dalam teknis dan sasaran
operasional, pemberian tugas dan tanggung jawab serta kemampuan merespon secara
menyeluruh pada suatu organisasi, di mana setiap manajer dan pekerja memandang
manajemen resiko sebagai bagian dari deskripsi kerja. Manajemen resiko
mendukung akuntabilitas (keterbukaan), kinerja pengukuran dan reward,
mempromosikan efisiensi operasional dari semua tingkatan.
Pengertian Risiko Operational.
Risiko
operational merupakan risiko yang umumnya bersumber dari masalah internal
perusahaan, dimana risiko tersebut terjadi disebabkan oleh lamanya sistem
kontrol manajemen (management controlsystem). Yang dilakukan oleh pihak
internal perusahaan. Misalnya risiko operational adalah risiko pada komputer
karena telah terserang virus, kerusakan maintenance pabrik, kecelakaan kerja,
kesalahan dalam pencatatan pembelian barang dan tidak adanya kesepakatan bahwa
barang yan dibeli dapat ditukar kembali dan sebagainya.
Risiko operasonal dapat
menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung dan
kerugian potensial atas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. Risiko ini
merupakan risiko yang melekat (inherent) pada setiap aktivitas
fungsional Bank, seperti kegiatan perkreditan (penyediaan dana), tresuri dan
investasi, operasional dan jasa, pembiayaan perdagangan, pendanaan dan
instrumen utang, teknologi sistem informasi dan sistem informasi manajemen, dan
pengelolaan sumber daya manusia.Risiko operasional bukanlah hal baru walaupun
disadari merupakan risiko yang paling akhir terdefinisikan dalam Basel II.
Definisi risiko
operasional dalam Basel II adalah termasuk risiko hukum, namun tidak mencakup
risiko bisnis, strategis dan reputasi.Menurut (Mamduh:2009) risiko operational
merupakan tipe risiko yang paling tua, tetapi yan paling sedikit dipahami
dibandingkan dengan tipe risiko lainnya. (misalkan risiko pasar ataupun risiko
tingkat bunga). Perusahaan sudah mengenali risiko operational meskipun dengan
nama yang berbeda. Sebagai contoh perusahana selalu berusaha memperbaiki
sistem, prosedur, atau proses bisnis melalui manajemen kualitas, perusahaan
memberikan training kepada karyawannya agar mereka semakin terlatih dan semakin
sedikit membuat kesalahan. Dalam konteks manajemen risiko, upaya terseut
dipandag sebagai upaya untuk mengelola atau menurunkan risiko operational.
Pengukuran risiko
operational
Salah satu teknik untuk mengukur resiko operasional adalah dengan
menggunakan dua klasifikasi, yaitu:
1.
Frekuensi
atau probabilitas terjadinya resiko.
2.
Tingkat
keseriusan kerugian atau impact dari resiko tersebut.
·
Signifikansi
(severity) rendah dan likelihood (frekuensi) rendah: low control.
Perusahaan
dapat menerapkan pengawasan yang rendah terhadap resiko pada kategori ini.
Pengawasan yang terlalu berlebihan pada jenis resiko ini akan menimbulkan biaya
yang lebih besar dibandingkan manfaatnya, sehingga akan lebih optimal jika
perusahaan tidak melakukan pengawasan yang berlebihan.
·
Signifikansi
(severity) tinggi dan likelihood (frekuensi) rendah: detect and monitor.
Tipe resiko seperti ini lebih menantang untuk dihadapi. Jika resiko
seperti ini muncul, perusahaan bisa mengalami kerugian yang cukup besar, dan
barang kali dapat mengakibatkan kebangkrutan. Tetapi frekuensi resiko tersebut
relative jarang, sehingga tidak mudah ditemui atau dikenali oleh perusahaan.
Karena itu resiko tipe ini paling sulit dipahami karakteristiknya, dan sulit
diprediksi kapan datangnya. Misalnya, Baring gagal melakukan pengawasan
terhadap trading yang diluar batas oleh salah seorang tradernya, kemudian
terjadi kerugian yang mengakibatkan kebangkrutan perusahaan tersbut. Frekuensi
resiko semacam ini relative jarang ditemui.
·
Signifikansi
(severity) rendah dan likelihood (frekuensi) tinggi: Monitor.
Tipe resiko semacam ini seringkali muncul tapi
besarnya kerugian relative kecil. Biasanya resiko semacam ini muncul sebagai
akibat perusahaan menjalankan bisnisnya. Dengan kata lain, resiko semacam ini
merupakan konsekuensi perusahaan menjalankan bisnisnya. Misalnya, untuk
perusahaan supermarket, ada resiko shoplifting (pencurian oleh pembeli),
pencurian oleh karyawan, barang dagangan rusak karena busuk atau karena botol
pecah, resiko semacam ini lebih mudah dikenali, dan perusahaan bisa menghitung
resiko tersebut. Kemudian perusahaan bisa menganggapnya sebagai biaya dari
kegiatan bisnis, dan perusahaan bisa memasukannya dalam komponen harga.
Kebanyakan perusahaan memasukan biaya
seperti itu ke dalam struktur harga mereka. Perusahaan bisa memonitor
resiko-resiko tersebut untuk memastikan bahwa resiko tersebut masih berada pada
wilayah normal. Jika resiko tersebut bergerak melebihi batas tertentu, maka
perusahaan perlu melakukan tindakan untuk menangani resiko tersebut. Misalnya,
jika frekuensi pencurian oleh pembeli supermarket menunjukkan kecenderungan
menin gkat maka manajer perlu melakukan perbaikan. Perbaikan-perbaikan tersebut
pada intinya memperbaiki prosedur dan proses bisnis. Misalnya, pada kasus
pencurian diatas, manajer supermarket bisa meminta pembeli untuk meninggalkan
tas, memasang supermarket di supermarket, memasang barcode pada setiap produk
yang dipajang (sehingga jika tidak di lepas dan melewati tiang scanner akan
berbunyi).
·
Signifikansi
(severity) tinggi dan likelihood (frekuensi) tinggi: prevent at source.
Tipe resiko
seperti ini tidak releven lagi dibicarakan, karena jika situasi semacam ini
terjadi, berarti perusahaan tidak lagi bisa mengendalikan resiko, dan bisa
berakibat pada kebangkrutan. Misalnya, jika perusahaan tidak bisa mengendalikan
penggelapan uang dengan jumlah besar oleh karyawannya (tipe resiko ini berada
dalam kuadran frekuensi rendah/signifikansi tinggi), maka ada kemungkinan
resiko ini berubah menuju kuadran frekuensi tinggi/signifikansi tinggi). Jika
hal ini terjadi, maka perusahaan praktis akan bangkrut dalam waktu singkat.
Dengan perspektif semacam ini, maka tugas manajemen resiko adalah mencegahnya
migrasi resiko-resiko yang ada ke dalam kuadran frekuensi tinggi/signifikansi
tinggi.
Perubahan
Karakteristik Risiko Operational
Setiap risiko
bisa berubah karateristiknya dari waktu ke waktu. Misalkan pada jaman dulu
pencatatan transaksi dilakukan secara manual ( karyawan menuliskan harga dan
jumlah unit yang diperdagangkan di kertas ), cara tersebut dapat memunculkan
risiko kesalahan pencatatan. Frekuensi kesalahan cukup sering karena karyawan
sering lelah namun biasanya mengakibatkan kerugian yang relative kecil. Sekarang
ini sudah banyak cara manual seperti itu diganti dengan pencatatan
terkomputerisasi dengan demikian frekuensi kesalahan dapat diturunkan namun
akan muncul jenis risiko baru. Apabila terjadi kegagalan atau kelemahan pada
system komputer maka kerugian yang muncul akan sangat besar.
a.
Globalisasi
Era globalisasi
telah memberi perubahan besar bagi konsep bisnis pada seluruh sektor bisnis,
baik financial maupun non financial, sehingga menciptakan konsep produk dibuat
untuk bisa menampung keinginan globalisasi tersebut. Karena itu, perusahaan
dituntut untuk menerapkan manajemen yang berbasis konsep global yang secara
tidak langsung mekanisme operational perusahaan juga harus bersifat global.
b.
Otomatisasi
Otomatisasi ini
menurunkan risiko yang berkaitan dengan manusia (misal kesalahan dalam
pencatatan karena kelelahan). Tetapi otomatisasi semacam itu memunculkan risiko
yang baru yaitu risiko kegagalan sistem dan semacamnya. Risiko ini cenderung
lebih sulit untuk dideteksi dan jika terjadi maka perusahaan akan mengalami
kerugian yan signifikan.
c.
Terlalu mengandalkan teknologi
Apabila terlalu
mengendalikan teknologi maka akan ada risiko baru yang akan dialami, walaupun
dengan menggunakna teknologi memudahkan dalam membantu proses bisnis yang akan
lebih cepat.
d.
Outsourcing
Outsourcing
merupakan tren bisnis akhir – akhir ini. Outsourcing berarti menggunakan jasa
pihak luar untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaan perusahaan. Outsourcing
dilakukan dengan pertimbangan efisiensi ( bisa menurunkan biaya ).
Jika melakukan pekerjaan sendiri , karena sesuatu hal ( misalkan keahlian
yang tidak ada atau skala ekonomi yang kurang ), bagi perusahaan, akan
lebih menguntungkan jika menggunakan jasa dari pihak luar untuk pekerjaan
tertentu.
e.
Perubahan budaya masyarakat
Masyrakat
semakin lama semakin pandai, semakin sadar kan hak dan kewajibannya. Kesadaran
tersebut cenderung meningkatakan risiko litigasi, dimana masyarakat akan
berusaha menuntut apabila merasa dirugikan. Perubahan budaya masyarakat bisa
meningkatkan risiko gugatan hukum.
2.4
Biaya untuk risiko Operational
Untuk mengatasi
risiko operational suatu perusahaan harus membuat analisa mencakup:
a.
Menghitung dan memetakan bentuk risiko yang
sedang dan akan dihadapi
b.
Memperhitung biaya yang harus dialokasikan
menyangkut pengelolaan risiko
c.
Memutuskan pembentukan mekanisme seperti apa
yang layak diterappkan untuk mengelola risiko
d.
Memutuskan dari mana sumberdana yang dapat
dialokasikan untuk mendukung penyelesaian operational risk ini
Just in time
a. Pengertian
Just In time
Menurut
Henri Simamora dalam bukunya Akuntansi Manajemen, Just In Time adalah suatu keseluruhan
filosofi operasi manajemen dimana segenap sumberdaya, termasuk bahan baku dan suku
cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk
mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada
konsep arus produksi yang berkelanjutan dan
mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerjasama dengan komponen-komponen
lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan
perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga
kerja, ruang dan waktu produksi. Metode produksi Just In time mensyaratkan
tidak adanya persediaan bahan baku karena bahan baku dan suku cadang
dijadwalkan untuk sampai ke pabrik dari pemasok hanya pada saat dibutuhkan
saja.
Sistem produksi
tepat waktu (Just In Time) adalah sistem produksi atau sistem manajemen fabrikasi
modern yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang yang pada prinsipnya
hanya memproduksi jenis-jenis barang yang diminta sejumlah yang diperlukan dan pada
saat dibutuhkan oleh konsumen. Konsep just in time adalah suatu konsep di mana
bahan baku yang digunakan untuk aktifitas produksi didatangkan dari pemasok
atau suplier tepat pada waktu bahan itu dibutuhkan oleh proses produksi,
sehingga akan sangat menghemat bahkan meniadakan biaya persediaan barang /
penyimpanan barang / stocking cost.
Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi
manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan.
Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just
In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan
setiap bagian proses produksi bekerjasama dengan komponen-komponen lainnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar